22 Juni 2026

Domestik

Sepekan terakhir IHSG mengalami penguatan sebesar 2,82% didorong oleh sektor kebutuhan dasar dan sektor konsumsi siklikal yang masing-masing menyumbang 12,42% dan 7,20% terhadap indeks. Investor asing malah melakukan aksi jual sebesar Rp4,18 triliun dalam sepekan terakhir di pasar reguler. Menunjukkan kurangnya kepercayaan Investor asing terhadap pasar domestik.

Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75% sesuai ekspektasi pasar sebagai upaya menjaga stabilitas Rupiah dan mempertahankan kepercayaan Investor di tengah ketidakpastian global. Di sisi lain, MSCI menurunkan penilaian terhadap aspek information flow Indonesia menjadi negative karena masih terdapat kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan saham dan aktivitas perdagangan. Meski demikian, aspek penilaian lainnya tetap dipertahankan dan Indonesia masih dinilai lebih baik dibandingkan sejumlah negara emerging market lainnya. Pasar kini menantikan hasil akhir evaluasi klasifikasi MSCI yang akan menjadi faktor penting bagi arus dana asing ke pasar domestik.

Amerika

Sentimen pasar global membaik seiring meningkatnya optimisme terhadap proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak Brent turun sekitar 9% sepanjang pekan, sehingga membantu meredakan kekhawatiran inflasi global dan meningkatkan minat Investor terhadap aset berisiko. Namun, pasar masih berhati-hati karena normalisasi aktivitas di Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih, sehingga premi risiko geopolitik masih bertahan.

Fokus Investor kini bergeser dari risiko eskalasi perang menjadi risiko implementasi perdamaian. Meskipun sebagian kapal tanker mulai kembali melintasi Selat Hormuz, aktivitas pelayaran dan ekspor energi belum sepenuhnya normal. Ke depan, pergerakan harga minyak akan menjadi indikator utama bagi pasar untuk menilai apakah tekanan inflasi global dan imbal hasil obligasi dapat kembali menurun.

The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,75% sesuai ekspektasi pasar dan tetap menunjukkan sikap hati-hati meskipun tekanan inflasi mulai mereda. Penjualan ritel tumbuh 0,9% MoM, melampaui perkiraan, yang mencerminkan konsumsi masyarakat masih kuat. Di sisi lain, klaim pengangguran mingguan tetap stabil di Rp226 ribu, menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif solid. Meskipun demikian, The Fed mulai mengindikasikan kebijakan yang lebih hawkish, tercermin dari proyeksi terbaru yang menunjukkan semakin banyak anggota FOMC memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga pada 2026 akibat inflasi yang masih bertahan di atas target.

Asia Pasifik

Jepang mencatat inflasi sebesar 1,5% YoY, menandakan tekanan harga mulai meningkat secara bertahap. Neraca perdagangan masih mengalami defisit, namun lebih kecil dari perkiraan berkat kinerja ekspor yang lebih baik. Di Tiongkok, penjualan ritel justru turun 0,6% YoY, lebih buruk dari ekspektasi dan menjadi penurunan pertama sejak Desember 2022, yang menunjukkan konsumsi domestik masih lemah dan pemulihan ekonomi belum merata.

Sumber : Refinitiv

Data Makro

  Data Makro Sekarang Sebelumnya
PDB ID 5,61% 5,39%
Inflasi ID 2,42% 3,48%
Suku Bunga ID 4,75% 4,75%
Pengangguran ID 4,85% 4,76%
Neraca Dagang ID $3,32 Bio $1,28 Bio

 

Kalender Ekonomi

 

Minggu Ini
Tanggal Indikator Ekonomi Data Konsensus Data Sebelumnya
25 Juni US – Core PCE Price Index y/y 3,3% 3,3%
US – Core PCE Price Index m/m 0,3% 0,2%
US – GDP Growth Rate q/q Final 1,6% 0,5%

 

Minggu Sebelumnya
Tanggal Indikator Ekonomi Data Aktual Data Konsensus Data Sebelumnya
16 Juni CN –Retail Sales -0,6% 0% 0,2%
CN – Unemployment Rate 5,1% 5,2% 5,2%
17 Juni US – Retail Sales m/m 0,9% 0,5% 0,5%
US – Retail Sales y/y 6,9% 4% 4,9%
US – Interest Rate 3,75% 3,75% 3,75%
18 Juni ID – Interest Rate 5,75% 6% 5,50%

Disclaimer on

Informasi yang tercantum di atas diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan, namun demikian PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (untuk selanjutnya disebut “Bank”) tidak melakukan verifikasi secara tersendiri. Informasi-informasi ini seharusnya hanya digunakan sebagai alternatif sumber informasi dan bukan sebagai rekomendasi atau saran untuk pembelian efek, komoditas, atau produk investasi lainnya, atau untuk melakukan perjanjian investasi dan atau valuta asing. Bank tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin isi, keakuratan, ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Kinerja di masa lampau bukanlah merupakan cerminan kinerja yang akan datang. Siapapun yang berencana untuk berinvestasi harus mempertimbangkan investasi yang cocok dengan memperhatikan tujuan investasi tertentu, profil risiko, dan berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang profesional. Investor harus menyadari bahwa merupakan tanggung jawab pribadinya untuk memperoleh pendapat hukum dan atau pendapat pajak terlebih dahulu mengenai konsekuensi hukum dan pajak atas transaksi investasinya. Dokumen ini hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas dan tidak untuk disebarluaskan, sedangkan informasi dan atau pandangan yang tertera dalam dokumen ini merupakan penilaian Bank semata untuk saat ini dimana hal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

PT Bank Maybank Indonesia Tbk. adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi dan bukan merupakan produk Bank, sehingga tidak dijamin oleh Bank serta tidak termasuk dalam cakupan obyek program penjaminan simpanan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. Bank tidak bertanggung jawab atas kinerja maupun segala tuntutan serta risiko atas pengelolaan Reksa Dana.

PT Maybank Indonesia Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)